Sabtu, 11 Februari 2012

Pacaran Di Kalangan Remaja Sekarang ( Makalah )

                                                KARYA ILMIAH

           PACARAN DI KALANGAN REMAJA SEKARANG


 

NAMA                     :           I WAYAN ENDRA SETIAWAN SUASTIKA
KELAS                     :           XI
PROGRAM              :           IPA


                                SMAK STELLA MARIS
                                      NIKI-NIKI, TTS
        2011







KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya untuk memudahkan kami sehingga karya tulis ini berhasil diselesaikan. Judul karya tulis yang kami pilih adalah “Pacaran Di kalangan Remaja sekarang”.

Penulisan karya tulis ini adalah merupakan syarat untuk mengikuti ujian Bahasa Indonesia untuk siswa/i XI IPA SMAK STELLA MARIS NIKI-NIKI untuk semester ganjil TP 2011/2012.

Dalam penulisan karya tulis ini, kami mengucapkan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan karya tulis ini. Terutama kepada :
·         Ibu Orance Tefa, S.Pd, selaku guru pembimbing Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami sehingga kami termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
·         Teman-teman semua yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang turut membantu dalam penyelesaian karya tulis ini.

Diharapkan tulisan ini bermanfaat untuk menambah informasi dan pengetahuan bagi kita para remaja tentang dampak-dampak kegiatan pacaran pada remaja.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan, baik pada teknik penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan karya tulis ini. Akhir kata kami ucapkan semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Niki-Niki, Desember 2011

_Penulis_




DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi

Bab  I              Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penulisan
1.4  Sistematika

Bab  II             Pembahasan
            2.1 Penyebab Dari Pacaran
2.2 Gaya Pacaran Pada Remaja Sekarang
2.3 Dampak Dari Pacaran
2.4 Pengaruh Pacaran Terhadap Sikap Kepada Orang Tua
2.5 Tahapan Pacaran
2.6 Upaya Untuk Mengatasi
2.7 Pacaran Yang Sehat Dan Bertanggung Jawab

Bab  III           Penutup
            3.1 Simpulan
            3.2 Kritik Dan Saran





BAB I
  PENDAHULUAN

Harfiahnya, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sediri. Ahli sosiologi merumuskan bahwa “seseorang” tidak akan bisa hidup dan tinggal sendiri tanpa suatu “kelompok”. Jadi, bagaimanapun kesombongan seseorang, tidak akan kekal dirinya tanpa hidup didampingi orang lain.

Pacaran? Ya.. biasanya orang-orang yang cenderung ‘religius’ mengatakan hal ini adalah sesuatu yang cenderung “negatif” dan hal yang sia-sia. Benar, itu hanyalah merupakan suatu pendapat. Bisa dinalar dengan persepsi kita, bisa juga sebaliknya. Untuk itu penulis membuat karya tulis ini.

1.1 Latar Belakang

Masa remaja adalah masa yang indah. Banyak hal yang terjadi pada masa transisi remaja dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Satu proses masa yang semua anak manusia telah, sedang dan akan teradi dalam sebuah proses tumbuh kembang remaja. Dunia remaja memang unik, sejuta peristiwa terjadi dan sering diciptakan dengan ide-ide cemerlang dan positif.
Namun demikian tidak sedikit juga hal-hal negatif yang terjadi. Salah satu hal yang menarik dan terjadi dalam dunia remaja adalah trend pacaran yang digemari sebagian remaja walau tidak sedikit juga orang dewasa gemar melakukannya. Bahkan ada rumor yang menarik, bahwasanya bila ada remaja yang belum punya pacar berarti belum mempunyai identitas diri yang lengkap.
Memang tidak dapat dipungkiri bila pacaran merupakan fenomena tersendiri dikalangan remaja. Dan kalaupun dicari satu definisi tersendiri pacaran maka akan sulit. Sebagian ada yang mendifinisikan pacaran adalah ajang dariuntuk mendapatkan kepuasan libido seksual, atau pacaran hanya sebagai label ”saya punya pacar dan dapat mendongkrak percaya diri”.
Ataukah pacaran adalah suatu hal yang penring karena dengan pacaran kita punya seseorang yang bisa membantu kita dalam mengatasi persoalan hidup dan untuk definisi pacaran tentu akan ada banyak yang lainnya.












1.2 Rumusan Masalah

Adapun yang akan  dibahas dalam makalah ini adalah:

1.      Mengapa pacaran?
2.      Bagaimana gaya pacaran remaja sekarang?
3.      Apa dampak dari pacaran?
4.      Apa pengaruhnya terhadap sikap remaja kepada orang tua?
5.      Bagaimanakah tahapan pacaran?
6.      Apa upaya yang dapat dilakukan terhadap persoalan ini?
7.       Bagaimana pacaran yang sehat dan bertanggung jawab?








C. Tujuan Penulisan

Setelah mempelajari makalah ini diharapkan:

1. Dapat mengetahui penyebab dari pacaran.
2. Dapat memahami gaya pacaran remaja sekarang.
3. Dapat mempelajari dampak yang ditimbulkan dari pacaran.
4. Dapat menjelaskan pengaruh pacaran terhadap sikap remaja kepada orang
    Tua.
5. Dapat mengetahui tahapan dalam pacaran.
6. Upaya yang dapat dilakukan terhadap persoalan ini.
7. Dapat mengetahui pacaran yang sehat dan bertanggung jawab.










BAB II
    PEMBAHASAN

2.1 Penyebab Dari Pacaran

Awal dari pacaran bermula ketika remaja masuk dalam tahap pubertas. Istilah pubertas berasal dari bahasa latin yang artinya rambut. Pubertas adalah munculnya rambut didaerah genetalia (2002:20).
            Bila dilihat dari sudut pandang biologis. Pubertas diawali dengan adanya tanda-tanda kelamin sekunder yang akan membedakan remaja putra dan remaja putri.
Menurut Cole dalam Warkitri dan kawan-kawan (2002:21), tanda-tanda tersebut adalah :
a.       Tumbuh rambut dibeberapa tempat.
b.      Pada anak putra tumbuh jakun, sedangkan putri tumbuh buah dada.
c.       Suara pada anak putra merendah, sedangkan anak putri meninggi.
d.      Pada anak putra bahu, dada bidang, sedangkan putri adalah pinggul.
e.       Otot pada anak putra kelihatan besar.
f.       Mulai berfungsi kelenjar keringat.

Selain tanda kelamin sekunder terdapat pula tanda kelamin tertier (remaja putri cenderung feminin dan remaja putra cenderung jantan).
Dari tanda-tanda inilah yang menyebabkan seorang remaja tertarik dengan kawan sejenisnya. Pada masa pra pubertas relasi bersifat homoseksual yang kemudian pada masa pubertas relasi bersifat heteroseksual. Pada masa heteroseksual secara cepat/lambat remaja akan menemukan cinta yang sebenarnya.

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kekanakan menuju masa kedewasaan. Saat ini, pacaran sudah menjadi kebiasaan yang menjadi tradisi pada kalangan remaja. Bahkan terkadang remaja yang belum pernah berpacaran dikatakan ketinggalan zaman. Sebenarnya, pacaran itu bukanlah  sesuatu yang membuat remaja yang tidak berpacaran menjadi terbelakang. Karena pacaran secara harfiah sebenarnya bukanlah ditujukan untuk remaja. Melainkan untuk orang dewasa yang sudah mulai menuju ke jenjang pernikahan.

Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan, definisi dari pacaran pada remaja saat ini adalah sebuah hubungan yang diawali dengan perdekatan dan ketertarikan diantara dua insan yang berlawanan jenis, yang dimulai dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak.

Dari banyaknya pendapat tentang definisi pacaran, sehingga muncullah dua golongan masyarakat, yang mengatakan bahwa pacaran merupakan hal yang dilarang, atau merupakan hal yang boleh-boleh saja dilakukan.

Definisi pacaran yang sebenar-benarnya adalah “persiapan menikah”. Mengingat bahwa menikah merupakan langkah besar dalam kehidupan, kita pada umumnya takkan mungkin siap nikah tanpa mempersiapkannya.



Bila ditinjau secara umum remaja jatuh cinta kepada lawan jenis karena beberapa hal antara lain:
a.       karakter
b.      fisik
c.       agama
d.      harta
e.       perhatian yang diberikan

Kelley dalam Burhan Shadiq( 2004 : 59 ) membagi cinta menjadi tiga macam yaitu :
a.       Cinta nafsu
Cinta jenis ini cenderumg tak terkontrol karena hubungan antara dua orang yang dikuasai oleh emosi.

b.      Cinta pragmatis
Cinta jenis ini cenderung dapat mengontrol perasaan

c.       Cinta atruistik
Cinta yang disertai kasih sayang yang tak terbatas. Misalnya cinta seorang ibu kepada anaknya.(2007:35).


2.2 Gaya Pacaran remaja Sekarang

Adanya libido seksualitas yang diberikan Tuhan kepada manusia salah satunya adalah remaja, harus dikelola dengan baik dan benar. Satu sisi kenyataan dalam gaya pacaran remaja menjadikan kasus seksualitas semakin meningkat. Adanya libido seksualitas yang diberikan Tuhan Allah yang tidak mampu di kelola remaja secara benar dan pada saat yang seharusnya dilakukan, hal ini sering menyebabkan kekeliruan yang fatal.  Sebagaian remaja tidak tahu dari efek yang dilakukan karena minimnya informasi tentang pendidikan seksualitas sesuai dengan kultur budaya dan religius. Tapi, ada juga remaja yang tahu efek dari gaya pacaran yang negatif dan kurang peduli dengan akibat yang akan terjadi. Kalau boleh diistilahkan dengan kata pacaran tidak sehat.
Hal ini tentu banyak efek negatifnya. Misalnya saja saat pacaran, tentunya remaja punya banyak keinginan yang belum boleh dilakukan dimasa remaja. Keinginan itu bisa berbentuk berpegangan tangan, mencium dahi yang komom katanya sich sebagai tanda kasih sayang. Tapi kadang kala ciuman didahi bisa berlanjut kearah yang lebih jauh. Bagaikan berenang di air yang deras lama-lama juga terseret arus.
Sama halnya dengan ciuman-ciuman yang dilakukan oleh remaja. Dari dahi menuju ke pipi dari pipi berlanjut ke bibir dari bibir berlanjut ke leher dari leher berlanjut ke sekwilda ( sekitar wilayah dada) dan ini yang disebut dengan pacaran foto close up dan selanjutnya bisa terjadi aktifitas yang lebih jauh, bahkan bisa jadi sampai ke gaya pacaran foto post card (melakukan hubungan seksualitas) dikalangan remaja.

2.3 Dampak Dari Pacaran

Gaya pacaran para remaja zaman sekarang yang cenderung tidak sehat, memiliki banyak sekali dampak negatif antara lain:

a. Meningkatnya tingkat aborsi
            Bila seorang remaja putri pacaran dan dia terlanjur hamil akan teteapi kekasihnya tidak mau bertanggung jawab maka jalan yang ia tempuh adalah aborsi (menggugurkan kandungan).

b. Meningkatnya tingkat kematian wanita.
            Hasil dari gaya pacaran yang tidak sehat salah satunya adalah kematian. Karena aborsi yang dilakukan oleh para remaja biasanya bersifat sembarang. Konon lagi dengan bantuan dukun yang tidak mendapatkan pengetahuan medis.

c. Adanya Free sex
            Hal yang lebih mengerikan lagi akibat dari pacaran yang tidak sehat adalah seks bebas (free sex). Mereka pertama melakukan hal yang terlarang itu tetapi kemudian mereka cenderung ketagihan.

d. Menyebarkan penyakit.
            Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dampak dari seks bebas adalah mewabahnya berbagai jenis penyakit kelamin seperti HIV/ AIDS, sipilis dan penyakit kelamin lainnya.

e. Meningkatnya penggunaan narkoba
            Pada usia remaja adalah usia di saat dimana seorang mencari jati diri. Pada usia ini akan sangat renta akan berbagai hal salah satunya adalah lingkungan. Pacar adalah salah satunya, bila pacarnya adalah pengguna narkoba maka kemungkinan besar dia juga akan terseret.





            Akan tetapi dilain pihak pacaran juga dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan kita antara lain :

a.       Problema cinta seperti patah hati, naksir dan perselingkuhan bisa menjadi  sebuah pengalaman yang mendukung kita menjadi lebih dewasa dan matang.
b.      Pacar bisa memberikan motivasi kepada kita agar dapat berpikir kedepan.
c.       Dengan cinta dapat mengubah perilaku seseorang menjadi lebih progresif. Misalnya seseorang yang tadinya malas belajar mendadak jadi rajin belajar karena dorongan dari sang pacar.
d.      Belajar mengenal dan menerima orang lain dalam kehidupan pribadi.

2.4 Pengaruh Pacaran Terhadap Sikap Kepada Orang Tua

            Orang yang berpacaran akan menghabiskan banyak waktu dengan pacarnya, terlebih momen-momen liburan. Tahukah kamu bahwa sebenarnya orangtua pun menginginkan kebersamaan dengan anaknya? Entah dengan piknik bareng, bekerja di kebun bareng, membuat kerajinan atau yang lain-lain. Namun disisi lain kita malah menghabiskan waktu dengan orang lain. Tak jarang orangtua menjadi sedih dan merasa dianggap tidak penting. Tapi kalau tidak mau pergi bersama pacar nanti pacar marah. Coba kalau ditanya balik kepada para remaja yang berpacaran, lebih berdosa mana membuat orang tua sedih dan marah atau membuat pacar marah  (yang nota bene BUKAN SIAPA-SIAPA)? Bagaimanapun juga akal sehat akan lebih memilih untuk tidak membuat orangtua sedih dan marah. Namun terkadang setan lebih lihai dalam menjerumuskan manusia.




2.5 Tahapan Pacaran

            Adapun tahapan dalam berpacaran al:
1. Tahap ketertarikan
            Dalam tahap ini tantangannya ialah bagaimana mendapatkan kesempatan untuk menyatakan ketertarikan dan menilai orang lain. Munculnya ketertarikan kita sama si dia, misalnya, karena penampilan fisik (ganteng/cantik, tinggi), kemampuan (pintar), karakteristik atau sifat misalnya sabar, cool, dan lain-lain. Menurut para ahli, umumnya cowok pada pandangan pertama lebih tertarik pada penampilan fisik. Sedangkan cewek lebih karena karakteristik atau kemampuan
yang dimiliki cowok.







2. Tahap ketidakpastian
            Pada masa ini sedang terjadi peralihan dari rasa tertarik ke arah rasa tidak pasti. Maksudnya, kita mulai bertanya-tanya apakah doi benar-benar tertarik sama kita atau sebaliknya apakah kita benar-benar tertarik sama doi. Pada tahap ini kita mendadak ragu apakah mau melanjutkan hubungan atau tidak. Kalau kita enggak mampu memahami tahapan ini, kita akan mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya.

3. Tahap komitmen dan keterikatan
            Pada tahap ini yang timbul adalah keinginan kita kencan dengan seseorang secara eksklusif. Kita menginginkan kesempatan memberi dan menerima cinta dalam suatu hubungan yang khusus tanpa harus bersaing dengan orang lain. Kita juga ingin lebih rileks dan punya banyak waktu untuk dilewatkan bersamanya. Seluruh energi digunakan untuk menciptakan saling cinta dan hubungan yang harmonis.

4. Tahap keintiman
            Dalam tahap ini mulai dirasakan keintiman yang sebenarnya, merasa lebih rileks untuk berbagi lebih mendalam dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan merupakan kesempatan untuk lebih mengungkapkan diri kita. Tantangannya adalah menghadapi sisi yang kurang baik dari diri kita. Tanpa pemahaman yang baik bahwa cowok dan cewek mempunyai reaksi yang berbeda terhadap keintiman, kita akan mudah mengambil kesimpulan yang salah bahwa terlalu banyak perbedaan antara kita dan doi untuk melanjutkan hubungan.

2.6 Upaya untuk mengatasi
            Untuk mengantisipasi persoalan ini agar tidak lebih buruk lagi diperlukan suatu penanganan antara lain :
a. Mensosialisasikan gaya pacarn sehat
Gaya pacaran sehat mengambil konsep yang positif, dimana remaja akan sehat fisik, tidak meruasak diri sendiri dan orang lain.

b. Memberikan informasi yang cukup mengenai seks.
Pendidikan seks adalah suatu hal yang penting agar remaja sejak dini mengetahui tentang pendidikan seks.

c. Menggunakan aspek agama.
Dalam hal ini remaja harus mempertimbangkan aspek agama, yang melarang tindakan seksualitas diluar nikah.

d. Menggunakan aspek budaya.
      Budaya yang ketimuran perlu diajarkan pada remaja.

e. Menggunakan pendekatan, tindakan represif, kuratif dan rehabilitasi.

f. Menyediakan sarana-sarana tempat remaja mengaktualisasikan bakat dan
              potensi.
        
2.7.Pacaran yang Sehat dan Bertanggung Jawab

Pacaran yang sehat dapat dilakukan, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

1.      Saling terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaan secara terbuka, jujur, mau berterus terang dengan perasan kita terhadap tingkah laku pacar. Siap nerima kritik dan kompromi.

2.      Menerima pacar apa adanya yang dilandasi oleh perasaan sayang. Tidak menuntut sesuatu yang berada di luar kemampuannya.


3.      Saling menyesuaikan. Kalau dalam proses ini terlalu sering ribut, maka perlu mempertimbangkan kemungkinan berpisah.

4.      Tidak melibatkan aktivitas seksual karena dapat mengaburkan proses saling mengenal dan memahami satu sama lain.


5.      Mutual dependensi, masing-masing merasakan adanya saling ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, diharapkan kita dan pacar mampu melengkapi kekurangan, sedangkan kelebihan yang dimiliki diharapkan mampu menutupi kekurangan pasangan.

6.      Mutual respect, saling menghargai satu sama lain dalam posisi yang setara.
















BAB III
        PENUTUP

3.1      Simpulan

Menurut pandangan beberapa golongan, pacaran adalah hal yang negatif. Namun, setelah dikaji lebih mendalam, argumentasi yang mengharamkan segala jenis pacaran tidak bisa menjadi pegangan. Ada jenis pacaran yang yang terlarang, tetapi ada juga jenis pacaran yang diperbolehkan.

Pacaran adalah sesuatu yang khas dengan dunia remaja. Mereka mulai mengenal cinta setelah pubertas. Tetapi pacaran pada anak remaja harus bersifat sehat dan positif, karena dengan pacaran yang sehat mereka tidak akan tersesat dalam gaya hidup bebas.

Pacaran dapat memberikan dampak yang positif bagi remaja, akan tetapi dilain pihak sisi negatifnya juga banyak. Maka untuk itu kita harus mengkondisikan agar remaja berpacaran yang sehat agak menghindari dampak negatif tadi.

Untuk itu diperlukan kerja sama dari berbagai pihak agar remaja tidak terjerumus kedalam pacaran yang tidak sehat yang mengarah pada freeseks.

3.2      Kritik dan Saran


Tidak sedikit remaja yang terjerumus kedalam pacaran yang tidak sehat. Mereka yang terjebak dalam freeseks menghancurkan masa depannya sendiri. Ini dikarenakan minimnya informasi pendidikan seksualitas diantara kalangan remaja. Orangtua punya tanggungjawab besar untuk mengawasi putra-putrinya yang sudah remaja agar tidak menjadi korban.

Sebagai remaja yang baik dan berpendidikan, kita harus dapat membedakan yang mana yang baik dan buruk, yang betul dan salah, serta yang positif dan negatif. Ini semua demi diri kita dan masa depan kita nanti. Jangan pernah coba-coba sesuatu yang belum tentu baik, apalagi yang sudah jelas tidak baik.


DAFTAR PUSTAKA

Pontoh, Rudi S. 2006. Pacaran Sehat Tips & Trik Buat Remaja. Jakarta: PT Gramedia Pustaka  Utama.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar